DSC_0072

Investasi apa yang kita pilih?


Pahala Yang Terus Mengalir

Allah menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Ketika hidup manusia dianjurkan untuk memperbanyak amal shaleh sebagai bekal kehidupan akhirat kelak. Apa yang diusahakan manusia akan terputus, ketika terpisahnya ruh dan jasad (datangnya kematian).

Namun ketahuilah! Ada amalan yang  pahalanya akan terus mengalir, walaupun orang tersebut telah tiada. Amalan apakah itu?

Perhatikan hadits berikut ini:
Rasulullah ﷺ bersabda:

سبع يجري للعبد أجرهن وهو في قبره بعد موته :من عَلّم علماً, أو أجرى نهراً , أو حفر بئراً , أو غرس نخلاً , أو بنى مسجداً , أو ورّث مصحفاً , أو ترك ولداً يستغفر له بعد موته.

7 perkara yang pahalanya terus mengalir kepada seorang hamba sekalipun ia telah dikubur setelah ia mati, yaitu:
1. Orang yang mengajarkan ilmu,
2. Mengalirkan sungai,
3. Menggali sumur,
4. Menanam pohon,
5. Membangun masjid,
6. Menyedekahkan mushaf,
7. Meninggalkan anak sholeh yang mendoakannya setelah wafatnya.” (HR. Ibnu Majah dan al-Baihaqi dan dihasankan oleh syaikh al-Albani dalam shahih al-Jami’: 3596).

Sungguh orang yang cerdas adalah yang mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.

Semoga Allah memudahkan kita dalam mengamalkannya.

“BBM naik” ==> mengeluh atau bersiap diri?


Rencana pemerintah dalam menaikan harga BBM dengan mengurangi subsidi mendapat banyak tolakan dari berbagai kalangan masyarakat. Dengan berbagai macam pendapat yang dilontarkan mulai dari inflasi harga, menurunnya daya beli, menurunnya produksi dunia industri, PHK dan banyak sekali efek domino yang bisa muncul membuat keputusan itu tidak dapat diterima. Saya sendiri tidak memahami bagaimana keuangan negara ini dikelola, dan hanya sedikit tau dari media masa yang semakin sulit dipilah untuk dijadikan dasar berpikir. Dengan banyaknya sumber energi yang ada di Indonesia tercinta, saya heran juga kenapa harus beli minyak dengan harga mahal…atau kenapa juga harus beli minyak, toh itu milik sendiri. Tapi realita memang demikian. 

Kenaikan harga yang sampai sekarang menjadi tanda tanya, pasti akan berpengaruh dalam kesejahteraan rakyat. lalu haruskah kita mengeluh dengan keadaan ini? tetap berjuang menahan harga BBM tidak akan dinaikkan? lalu sampai kapan bisa mempertahankan jika ada permainan global untuk minyak ini? apa dengan mengeluh persoalan ini akan mengubah kebijakan pemerintah? saya sendiri pesimis. Jadi terima saja dengan lapang dada, dan segera kita bersiap diri.

Bersiap diri untuk menerima keadaan ini dan menjadi masyarakat yang kompetitif, kompetitif dengan masyarakat global, bukan berkompetisi dengan saudara sebangsa. Bersiap menjadi masyarakat yang mandiri yang tidak tergantung dengan salah satu atau beberapa sumberdaya saja, karena kita punya banyak sumberdaya yang melimpah untuk dimanfaatkan, kita punya masyarakat yang kreatif dan pekerja keras, masyarakat yang penuh rasa gotong-royong… Semoga kita semua dapat membuktikan diri!!! karena cepat atau lambat harga BBM juga terus naik.

Benarkah mereka teroris…


Beberapa kali dengar kabar di media ada penyergapan kelompok orang yang diduga “Teroris” oleh Densus 88 menimbulkan pertanyaan dalam batinku. “Kenapa mereka harus dihukum mati sebelum diadili?”. Saya sebut dihukum mati karena dengan kemampuan yang sangat canggih, meskipun ada perlawanan dari pihak yang diduga teroris, saya rasa Densus 88 dapat dengan mudah meringkus mereka tanpa jatuh korban, yang terakhir di bali mereka juga tidak membawa bom. Tapi kenapa tersangka harus mati semua?… apakah benar mereka teroris? seharusnya bisa dibuktikan dalam persidangan, tapi kalau sudah mati begini siapa yang bisa jawab? saya jadi ragu apakah mereka benar teroris atau konspirasi saja… Semoga pertanyaan dalam benak segera menemukan jawaban, dan tentram sejahtera Negeriku!!!

Lantang tapi tak terdengar, Nasib petani Indonesia.


Lantang tapi tak terdengar.

Berapa banyak pihak yang berteriak saat harga beras, cabai, bawang, gula, daging dan kebutuhan pangan lain melonjak tinggi? Hal itu sepertinya sudah wajar didengar, dan menjadi perhatian bagi pemerintah untuk segera menyelesaikan persoalan perut itu. Media begitu gencar memberitakan menjadi tontonan yang menarik, menarik karena jadi pusat perhatian dan banyak orang mulai berbicara, menarik karena banyak pihak telah berhitung akan potensi keuntungan dengan harga yang membumbung tinggi. Menarik karena bisa digunakan untuk mengguncang lawan politik, menarik karena dapat digunakan menaikkan pamor politik. Semua berteriak.

Kebijakan impor akhirnya diambil, dianggap sebagai pilihan yang paling bijak untuk bisa menurunkan harga. Teriakan siapa yang paling didengar jika kebijakan ini diambil? impor beras, impor gula, impor cabai, dan baru-baru ini baru saya baca di Detik.com impor bawang yang dikirim ke sentra bawang, Brebes. Sebuah langkah yang sangat konkrit dan menjadi solusi akan kenaikan harga. Sampai saat ini harga cabai sudah mulai stabil kisaran Rp.8.000 sampai Rp.10.000/kg untuk cabai merah besar, harga bawang merah pun demikian. Oke persoalan berangsur mulai terselesaikan, teriakan konsumen begitu kencang terdengar.

Karena para pemuda Indonesia (bisa jadi termasuk saya) sudah mulai enggan menaikki sapi saat bermain dengan teman-teman dan mulai suka naik “bebek” (motor bebek) produksi sapi diasumsikan tidak dapat mencukupi kebutuhan daging nasional. Lalu karena banyak ditayangkan di TV sebagai tokoh yang macho, keren, gentle sebagai Cow Boy ( Anak gembala), sepertinya pemuda Australia lebih suka pelihara sapi (hehehe, kayaknya ga segitunya) dan sudah terlalu banyak makanya dikirimkan ke Indonesia. Harga daging sapi sepertinya stabil, stabil mahalnya karena memang mahal buat ukuran saya dan keluarga. Namun anehnya, dengan harga daging yang masih cukup tinggi, tapi kenapa harga sapi yang dipelihara dengan naik “bebek” serta nge-wall di FB saat mau cari rumput oleh peternak Indonesia begitu rendah?

Demikian pula yang terjadi dengan beras dan gula,

selama ini yang dijadikan tersangka adalah ada pihak yang berperan memainkan harga pasar. Untuk beras dan gula masih mungkin terjadi karena masih bisa disimpan relatif lama. Bawang pun masih bisa, kalau cabai saya selalu berfikir bagaimana cara menimbun cabai dalam jumlah besar dan baru saya jual saat harga tinggi,tapi rasanya sangat sulit bisa bertahan lama ya? kemudian jika ada penimbun, karena profesionalitas Dinas Perdagangan, saya rasa akan bisa terungkap dalam waktu yang cepat. Lalu apa yang menyebabkan harga melambung tinggi? apakah ada pihak yang begitu diuntungkan secara ekonomi dengan keadaan ini?

Yang saya tahu dengan mengamati sekitar dan beberapa berita di media untuk Cabai dan beras adalah produksi yang rendah. Cuaca ekstrim menyebabkan produktivitas cabai sepanjang 2010 rata-rata 30% dari produksi normal/ha karena serangan penyakit begitu tinggi. Demikian pula dengan padi, serangan wereng coklat menghapus banyak mimpi dari keluarga petani. Karena stok barang tidak sebanding dengan permintaan yang menyebabkan harga melonjak begitu tinggi. Lalu apakah petani menjadi pihak yang sangat diuntungkan dengan keadaan ini? saya rasa tidak, apalagi dengan adanya kebijakan pemerintah menurunkan harga komoditas tersebut.

Kenapa? hitung saja penurunan produktivitasnya, lalu dengan cuaca ekstrim kebutuhan pupuk, pestisida, dan tenaga kerja menjadi berlipat-lipat. Kenaikan harga yang dinikmati petani itu hanya sebatas bisa mengembalikan modal yang telah dikeluarkan. Lalu apa yang terjadi dengan jika harga-harga tersebut diturunkan karena kebijakan pemerintah? Petani akan berteriak (seharusnya), tapi kebanyakan petani adalah orang-orang yang nrimo, selalu bersyukur dengan apa yang sudah Gusti Allah anugerahkan, bukan orang-orang tamak, tapi ini tidak semua, jadi teriak lantang sebatas teriak, atau kah memang tidak ada yang mau mendengar?

Sebenarnya apa yang terjadi dengan kita? banyak orang menghabiskan pulsa untuk FB, download film, dan hal-hal lainnya mereka/kita tidak memikirkan harganya, tapi memberikan harga lebih untuk komoditas pertanian Indonesia karena memang dibutuhkan sebagian dari bangsa kita yang lain, kita berteriak lantang agar diturunkan harganya.

Jika biaya masuk bahan pangan bisa dikurangi atau pun dibebaskan, tapi kenapa untuk pupuk, pestisida, sarana kebutuhan pertanian untuk meningkatkan produktivitas petani tidak diperlakukan yang sama? bahkan untuk beberapa pupuk dan pestisida impor (yang diyakini, termasuk saya yakini) lebih bagus kualitasnya naik hingga 20 %. Sebenarnya petani pun berteriak, lantang, tapi di ladang. Jika teriak di sawah/ladang/kebun siapa yang akan mendengar? wakil rakyat mana mau datang menyamar menjadi kuli sawah untuk mendengar keluhan petani?

memang nasib, bukan untuk dikasihani, tapi memang sudah haknya menjadi prioritas bagi kebijakan pemerintah untuk melindungi rakyatnya. Jadikan produktif dengan dukungan alat dan teknologi yang murah, agar menghasilkan pangan yang murah juga. Dan janganlah memperparah kehancuran dengan menghancurkan harga hasil panen petani  Indonesia.

-Bertani itu Keren-

 

Ocean Week 1 di Tuban

Romantisme masa lalu: Ocean Week 1 Tuban


Semalam jam 22.30 wib turun dari bis langsung memasuki kawasan mangrove yang gelap gulita dengan suara angin laut yang menggoyang-goyangkan pepohonan. Suasana yang terasa saat beberapa kali berkegiatan dengan temen-temen dari ITS.

Pertama adalah saat Ocean Week 1 dan kemudian camp angkatan 2006 Jurusan Biologi ITS. Ocean Week 1, kegiatan ini melibatkan banyak organisasi mahasiswa dan siswa SMA, dengan rombongan yang begitu banyak. Dari mempersiapkankegiatan inilah saya mulai kenal dengan pak Ali Mansyur pemilik dan pengelola Mangrove Center Tuban. Bersama teman-teman dari Himpunan Mahasiswa Biologi ITS kita menngorganisir kegiatan Ocean Green yang menjadi bagian dari rangkaian acara Ocean Week pertama. begitu banyak kenangan yang tidak mudah dilupakan karena keterlibatan begitu banyak orang. Kegiatannya seputar pengenalan ekosistem pantai terutama mangrove, penanaman mangrove dan disela-sela acara diisi dengan gobak sodor di hamparan pasir yang begitu luas… Tadi pagi saya kembali berkeliling ke lokasi kegiatan, memperhatikan mangrove jenis Rhizophora yang waktu itu ditanam mengelilingi tambak sekarang sudah mulai besar dan sudah berbunga, berikut adalah photo saat kegiatan tahun 2006  dan kondisi mangrove saat ini

Meskipun beda angle pengambilan, photo sebelah kanan adalah hasil penanaman bersama teman-teman pada saat Ocean Week pertama. Setiap satu pohon pasti akan memberikan manfaat yang besar untuk kemudian hari, dan ini hasil kerja keras tangan-tangan yang peduli terhadap pelestarian lingkungan.

Selanjutnya photo-photo begitu ramainya kegiatan Ocean Week di Mangrove Center Tuban

Ramainya kegiatan masih saja terasa saat melihat beber

apa sekolah sedang kegiatan ditempat yang sama hari ini, mengingatkan pada para sahabat yang belajar untuk bertindak nyata pada alam…

 

 

 

hangatnya persahabatan….to Pioel and Efit


harusnya ini ta posting 2 tahun lalu, tapi biarlah aku kangen karo kalian berdua…

Sunday, December 23, 2007

4:27 PM

Umur 22 tahun kembali saya lewatkan di lereng welirang (kop-kopan) untuk memasuki masa peralihan masuk umur 23 tahun.

Bersama piul dan efit, Dalam tenda dum dengan ucapan selamat yang meluncur dari mulut dan tangan sahabat, piul lalu efit

Bulan bersinar terang dengan bulatnya karena purnama

Langit cerah dengan tiada mendung mengijinkan cahaya bulan menerobos turun ke bumi, menuju mata yang merindukan kesejukannya.

Kabut telah menghilang saat tengah malam, dingin masih juga menusuk persendian.

Melodi dari gesekan sayap serangga menjadi alunan yang menenangkan jiwa,

Sentuhan kasih dari sahabat memicu haru dalam jiwa, Semangat baru, kesegaran jiwa, dan kekokohan fisik

# hari ini, titik tolak perbaikan, titik tolak perubahan, titik tolak kematangan, titik tolak kenyataan!!!

# kita bertiga lagi aneh ki, jarang-jarang pergi ga bawa kamera, biasae masio silihan tetep bawa kamera…hehehehe