Meneropong Birdstrike di Juanda


Secara geografis bandar Udara Juanda terletak pada koordinat 07°22′51″ lintang selatan dan 112°47′11″ bujur timur dengan elevasi 3 m dari permukaan air laut. Kawasan Bandar Udara Juanda terbagi atas landasan (dimensi 3.000 x 45 m2), taxiway (luas 161.108,4 m2), apron (luas 118.161 m2), parkir kendaraan (luas 53.600 m2), terminal (luas 60168 m2) dan peralatan GSE (luas 9.409 m2), secara keseluruhan luasnya 680 ha (PT. Angkasa Pura, 2007). Kondisi lahan yang berupa dataran terbuka tersebut banyak di tumbuhi rerumputan dan semak serta terdapat beberapa kolam air sebagai drainase. Rerumputan dan kolam air tersebut banyak menyediakan makanan dan menyebabkan berbagai jenis burung datang pada area tersebut. Menurut Solman (1971), di tengah perkembangan industri yang menyebabkan kerusakan habitat, bandar udara menyediakan lingkungan yang stabil sebagai ruang perlindungan dan makanan bagi hewan liar. Burung merupakan organisme yang mempunyai kemampuan untuk terbang dan mampu menempati semua habitat (Jasin, 1989). Kehadiran burung di ruang udara diketahui menjadi pengganggu dalam dunia penerbangan dengan istilah bird strike (gangguan burung).

Mantijaca (2000) menyebutkan tabrakan antara burung dan pesawat dalam terminologi lalu-lintas udara dikenal dengan bird strike. Bird strike didefinisikan sebagai tabrakan antara burung dan pesawat baik di dalam atau di luar area bandar udara, dengan kemungkinan berpengaruh lebih lanjut pada keselamatan penerbangan suatu pesawat, pada suatu kasus,terjadi burung terhisap atau tertabrak dengan mesin pesawat, atau tabrakan dengan badan atau sayap pesawat. Sebagai akibatnya bahwa mungkin kerusakan pesawat, cidera atau kematian penumpang atau awak pesawat. Walaupun banyak gangguan burung (90 %) terjadi pada lingkungan bandara selama landing dan takeoff (di bawah 1000 m), gangguan burung telah dilaporkan terjadi pada ketinggian antara 0 sampai 9000 m (Cleary and Other, 2000 dalam Barras, 2002).

Tabrakan antara burung dan pesawat (bird strike) merupakan bahaya yang penting bagi dunia penerbangan, jutaan dolar harus dikeluarkan untuk membayar kerusakan dan penundaan penerbangan. Hasil perhitungan yang dilakukan oleh United State Federal Aviation Administration (FAA), biaya yang dikeluarkan industri penerbangan Amerika Serikat sebesar US$ 385 juta per tahun ditambah 461.000 jam penundaan penerbangan (Cleary dalam Allan, 2000). Secara keseluruhan, biaya yang dikeluarkan untuk gangguan burung bagi industri penerbangan komersial dunia diperkirakan US$ 1,28 milyar merupakan suatu kondisi yang sangat jelas penting bagi ancaman keselamatan (Allan and Orosz 2001)

Berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh Departemen Perhubungan RI, pada tahun 2002 telah terjadi gangguan burung (bird strike) di Bandar Udara Juanda, dimana telah menyebabkan kerusakan mesin pada pesawat Bouraq Airlines. Sedangkan di Bandar Udara Soekarno-Hatta dalam kurun waktu 2001-2002 terdapat 4 kali peristiwa bird strike (Alikodra, 2003).Barras (2002) menyatakan, spesies yang umum menyebabkan bird strike di Ohio, Amerika Serikat dari tahun 1990 sampai 1999 adalah burung camar (Larus spp, 135 kali), burung pemangsa (Falconiiformes dan Strigiformis, 55 kali), dan waterfowl (Anseriformis, 49 kali). Di Taiwan, Yo (2002) mengidentifikasi ring necked pheasant (Phasianus colchicus), merpati (Columba livia), dan common kestrel (Falco tinunculuc) merupakan spesies yang paling mengancam terjadinya bird strike. Sedangkan di Bandar Udara Soekarno-Hatta, pada kurun waktu tahun 2001-2002 terjadi 4 kali bird strike dengan penyebab burung camar dan kuntul (Egretta spp) dan 30 komplain dari maskapai penerbangan terhadap gangguan burung di Bandar Udara tersebut (Alikodra, 2003).

Bandar udara Juanda merupakan anggota Internatioal Civil Aviation Organization (ICAO) dengan kode yang disebtut WARR. Standar ICAO dalam penanggulangan bahaya burung (Bird hazard reduction) menyebutkan, otoritas bandar udara harus mengawasi bird strike, membuat prosedur standar pencatatan dan pelaporan, serta melaksanakan pengumpulan data baik dari penerbang dan personel bandar udara, terutama terhadap keberadaan burung yang berpeluang menimbulkan kecelakaan. Ketentuan standar lain juga mengharuskan otoritas bandar udara menekan tingkat populasi burung disekitar bandar udara serta terus meneliti perkembangan jenis burung yang berpeluang menimbulkan gangguan. (Martono, 2007).

8 thoughts on “Meneropong Birdstrike di Juanda

  1. ya memang masalah burung di Bandara sudah menjadi gangguan, walaupun mereka sudah diusir tetapi tetap saja mereka ada di sana. Pihak bandara Djuanda kalau ndak salah punya satu mobil yang bisa mengusir burung-burung tersebut. Mungkin sang Burung nyari ibunya dan dia pikir kalau pesawat tersebut adalah ibu nya atau saudarany!he2

  2. Kami dari lembaga penelitian LIPI sudah melakukan kerjasama dengan fihak bandara juanda, untuk rencana pemasangan peralatan penghalu burung (bird strike), baik fix dan mobile sampai sekarang belum ada kelanjutannya mengenai kerjasama penelitian, kami menunggu informasi berikut. Terimakasih.

  3. Yth Bapak kami dari LIPI sudah survey dan menjalin kerjasama penelitian menghalau burung dengan fihak bandara djuanda, namun sampai saat ini belum berlanjut, terimakasih.

  4. Kenapa data2 tentang banyaknya accident dan incident yang terjadi akibat birdstrike di juanda gak ikut dimuat? Padahal dengan dimasukkannya data2 itu akan terlihat seberapa jauh kondisi birdstrike di juanda. Terlebih dengan meningkatnya volume penerbangan ke bandara ini, birdstrike bisa menjadi hambatan yang cukup serius terhadap industri penerbangan tanah air. Terima Kasih

  5. tulisan ini saya buat sebelum memperoleh data lengkap dari pihak Angkasa Pura I Juanda. mulai tahun 2001 hingga 2007 awal telah terjadi 11 gangguan burung, salah satunya kerusakan mesin yang dialami Merpati. saat ini saya masih melakukan penelitian bioekologi burung di juanda untuk mencari solusi yang lebih bijaksana, yang mungkin nanti juga bisa dikembangkan di semua bandara di Tanah Air. terima kasih atas perhatiannya pak Andhika.
    Bapak dari Angkasa Pura?

  6. lapor aja niy bos. Graha ITS.. Ya, gedung almamater ente bos. punya masalah dengan gangguan burung di atapnya. ada ide dari biologi? karena yang saya tahu dari rapat dengan pimpinan ITS. pengelola graha bahkan menemukan ada sekitar 6 burung hantu yang ada di atap graha. Dan sayangnya dari rapat itu saya sedih. mereka diusir dengan dibunyikan petasan. lalu ditembak. *keterangan mati atau tidaknya si burung masih samar samar..

    tolong dari biologi bisa mengatasi gangguan burung itu. mungkin kerjasama dengan elektro atau teknik fisika untuk buat alat pengusirnya.

    oiya, burung2 itu menggangu dengan buang kotoran sewaktu-waktu. grha jadi kotor dibuatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s