,..
Bird of Parahyangan menjadi ajang Bird watching race ke sembilan yang pernah saya ikuti. Awalnya bermaksub hanya sekedar meramaikan dan menyambung tali silaturahmi dengan kawan-kawan pengamat burung, tapi karena Pecuk kekurangan orang yang mestinya diisi Arnold, harus saya gantikan karena anaknya ada kegiatan lain, dan saya berama 5 orang Pecuk (Angga, Vani, Iska, Febri dan Anin) berangkat dari Surabaya tanggal 6 Nopember 2008 naik kereta Pasundan jam 6 pagi dari stasiun Gubeng. Kereta ekonomi yang penuh keramahan dan keramaian. Jam 10 malam sampai di stasiun Kiara Condong (Kircon) Bandung, lalu meluncur ke jl. Paledang no. 21 markas Bicons yang menjadi penyelenggara Bird of Parahyangan (BoP) dengan carter angkot (Rp.8000/orang). Perjalanan ini menyusuri jalanan kota Bandung dengan lancar di sekitar Km.0, dan pastinya “duingin banget”. Sama bapak sopirnya banyak didongengi seputar bangunan tua, salah satunya bekas Toko The Sun yang menjadi cikal bakal Matahari Department Store. Setelah samapai ke Bicons, disambut kang Deri, Agung dan lainnya…cari makan Nasi Goreng Mawut (Rp.5000) yang rasanya manis dan teh tawar GRATIS…
,..
BOP merupakan salah satu bagian dari rangkaian peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional yang digelar Pemprov Jabar dan organized by Bicons. Kegiatan yang lain ada lomba blog lingkungan dan pameran tanaman. BOP di mulai dengan pembukaan jam 11 di taman Gedung Sate yang menjadi icon Bandung diikuti 31 tim dari Jawa Timur hingga Jawa Barat, bahkan ada peserta dari Manado yang datang setelah rangkaian lomba berakhir. Saat pembukaan, peserta dijamu dengan penampilan siswa sekolah yang menampilkan beberapa lagu Bandung dengan iringan alat musik modern dan tradisional yang membuat acara semakin meriah.

Setelah sholat jum’at di Masjid Istiqomah, jam 13 lomba hari pertama dimulai. Empat taman kota dengan alokasi waktu 3,5 jam di sediakan oleh panitia dengan buku panduan yang detail, mulai dari luas,cara mencapai hingga keanekaragaman vegetasi taman kota, kecuali daftar burung pastinya! Empat taman kota tersebut yaitu Taman Cilaki, Taman Maluku, Taman Merdeka, dan Taman Ganesha. Setelah di Analisa berdasarkan race itinerary Pecuk memutuskan melakukan pengamatan di Taman Cilaki dan Taman Ganesha. Pada hari pertama teridentifikasi 29 jenis burung, dimana jenis yang diperoleh harus berupa sketsa yang cukup menggambarkan hingga tingkat spesies.

Pengamatan hari pertama berakhir jam 16.30 wib, dan semuai peserta harus sudah mengumpulkan data pengamatannya, apabila melewati batas waktunya akan ada pengurangan 1 spesies dari data yang diperoleh. Nah, karena kebingungan mencari binocular yang terbawa tim Pecuk 2 (Agus, Iska, Febri), pecuk 1 (Angga, Vani, Anin) kehilangan 6 spesies burung karena terlambat 6 menit.
,..
Jam 17.15, kegiatan berlanjut ke Ranca Upas, Ciwidey dengan naik truk TNI sekitar 1 jam 45 menit. Karena jumlah peserta dan panitia cukup banyak, akhirnya aku harus berdiri di belakang. Tapi dengan begitu aku dapat melihat jalanan yang menegangkan, melewati jurang yang curam. Semakin lama, semakin terasa dingin, apalagi biasanya aku selalu merasakan kehangatan Surabaya, disini dibuat tidak bisa berkutik.

Sampai di lokasi perkemahan semakin dingin, persendian dibuat bergetar seperti tari kejang. Tapi yang buat semakin kesal saat turun dari truk, ada barisan TNI yang berlari-lari sambil bernyanyi lagu kehormtan, tanpa mengenakan kaos, malam-malam di tempat sedingin ini…huahhhh…..aku dan rombongan dari Surabaya ae sudah bingung memakai kaos kaki, mereka malah enak2an mengumbar otot kuatnya…atau mereka sudah mati rasa kali…

Tenda didirikan, sholat, makan dan dilanjutkan perkenalan hingga jam 9an malam. Di cuaca dingin, makanan sulit masuk ke lambung, makanannya aja “es nasi ayam”,..otot polos usus seperti mengeras dan makanan harus didorong dengan air agar mau turun ke lambung. Sebagai penghangat,panitia membagikan “bandrek”, katanya dari jahe, eh pas ta minum seperti jus cabe, pedes banget…tapi lumayan jadi hangat. Disesi perkenalan, seperti biasa, diisi dengan kekonyolan-kekonyolan, pokoknya rame. Pengumuman yang membuat sedikit gempar adalah saat panitia memberitahukan agar besok juga akan ada latihan tembak dari TNI AU bersamaan dengan sesi pengamatan, dan membuat rute lomba juga harus di ganti,..
,..
Ranca Upas berada di bawak kaki Gunung Patuha, Desa Alam Endah, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung. Ketinggian berkisar 1700-1800 mdpl dengan suhu rata-rata 18-230 C, curah hujan 3740-4050 mm/th. Ranca Upas berasal dari kata Ranca artinya rawa, dan Upas berarti serdadu belanda. Di kawasan ini memiliki lahan basah dataran tingggi berupa rawa.
,..
Tidur di dalam tenda dengan beralas dan berselimut sleeping bag terasa begitu dingin, gimana tidak dingin, 2 sleeping bag di pake 4 orang!!! Alhamdulillah dapat sensasi berbeda karena selama ini selalu tidur dengan memeluk kipas angin di Surabaya, saat ini tidur di ruangan ber-AC dengan voltage besar. Sementar itu, 2 cewek pecuk tidur di barak bersama tim lain dan panitia.
,..
Jam 06.00 pengamatan hari kedua dimulai dan harus mengumpulkan data pengamatan jam 16.00. Disaat tim lain sudah mulai masuk kawasan hutan, pecuk masih prepare, karena bangun kesiangan…

Ada 8 pos yang disiapkan panitia untuk membantu navigasi, satu pos lagi di puncak dengan ketinggian 1950 mdpl. Saat akan memulai pengamatan yang menjadi prioritas selain jenis burung adalah mencapai puncak, dimana dalam persepsi Pecuk, puncaknya adalah kawah putih Gunung Patuha. Memasuki kanopi yang rapat suara burung mulai riuh, sayangnya cukup sulit menemukan burung yang hanya terdeteksi suaranya dan pencahayaan kurang, selain itu belum terbiasa mengamati burung gunung. Saat asik memperhatikan suara burung, eh tiba-tiba terdengar dentuman dan berondongan senapan,..wah detak jantung semakin kencang, suasana pengamatan burung jadi lebih menantang *seperti pengamatan di tengah peperangan,…harus menunduk, tiarap, pasang teropong, menggambar, dan tak jarang berguling-guling menghindari senapan, dan terdengar suara isakan tangis yang menyayat hati (wah yang ini nglantur uiii). Yang disampaikan panitia semalam ternyata benar, benar2 seru!!! Cari burungnya saja susah, sudah diberondong tembakan.
***
Setelah melewati beberapa pos dan mencatat burung yang terdeteksi, sampai di pos 4 (pos persimpangan ke puncak atau ke rawa-rawa), kami putuskan dengan semangat kalo “kepuncak!!!”, kawah putih jay!!!

Wah ternyata cukup lumayan, jalanan menanjak dengan kemiringan > 400, Iska yang belum pernah naik gunung juga dapat pengalaman baru melihat kunang-kunang di siang hari (baca:berkunang-kunang), dan terengah-engah minta istirahat menghabiskan perbekalan strowbery dan coklat. Tapi aku (yang paling tua) berusaha kasih motivasi, “ayo Iska!!!kawah putih menanti kita, Insyaallah sesuatu yang kita gapai dengan susah payah akan berakhir manis”. Dengan semangat, bertiga terus menaiki jalanan terjal berlumpur, suhu yang dingin, perbekalan yang tidak cukup untuk seminggu, tanpa penunjuk arah, tanpa senter, dan tenda (hee3x…kan perjalanannya Cuma 3 jam?),..akhirnya terlihat juga pos puncak dimana ada beberapa panitia yang stand by, terus menanyakan “dari tim mana mas?”, aku bertanya “ini sudah puncaknya?”, dijawab “iya mas, ketinggian tertinggi 1950”, wah kami bertiga merasakan kebahagiaan sambil melihat sekeliling mencari apa yang sudah kami bayangkan sebelumnya “kawah putih”,..tapi kok yang terlihat hamparan idjo royo-royo ga ada putihnya sama sekali…aku bertanya lagi”kalo ini puncak, kwah putihnya mana?”, dijawab “wah kawah putihnya bukan disini, tapi di Gunung Patuha, sebelah gunung ini”, dengan ekspresi seperti kegigit nyamuk, atau digigit semut merah, atau seperti rambut yang banyak kutunya kami terpaksa tertawa, mentertawakan diri sendiri,..dan berusaha untuk terus bersyukur, mencari makna apa yang didapat, ehhh…ternyata belum ketemu juga maknanya….sebagai pelipur lara, kamera selalu menjadi obat yang membuat kita tersenyum,…..

Setelah dapat pelajaran, kami turun dari puncak menuju pos 8, semangat kembali menggebu untuk segera mencapai pos 8, pos dimana makan siang akan di bagikan….di jalanan lumpur yang lebih miring lagi, menjadi tantangan baru, alhamdulillah di bukit yang setara dengan kanopi di bawahnya, suara riuh burung kembali terdengar, dari sinilah banyak jenis burung teridentifikasi…tapi ada yang sangat mengerikan dan membuatku harus lari kebirit-birit, naik ke pohon, meloncat dari pohon ke pohon, dan ambil senapan, rompi anti peluru hingga helm baja untuk perlindungan,..saat itu aku lagi asik pengamatan tanpa memperhatikan permukaan tanah,..lalu tiba-tiba iska berteriak histeris dengan menakutkan,..seperti kedatangan pasukan Kompeni 1 batalyon,..”mas agus!..ada ulet geni di bawah kaki mas agus!!! (slow moving)”, tak pelak terjadilah peristiwa mengerikan itu…eh kedua temanku malah ngetawain aku….
Melewati pos 8, terus pos 7 dan dalam perjalanan menuju pos 6 ketemu delivery service, akhirnya makan siang di tengah hutan hujan tropis dengan kanopi rapat yang basah dipinggir aliran sungai yang jernih diiringi lagunya Alda “aku tak biasa…”, aku tak biasa makan di tempat sedingin ini….

Sampai di pos 6, lokasi pengamatan berupa rawa-rawa, dan semakin mengenaskan, tidak satu jenis burung pun terdeteksi, yang terlihat malah puncak Patuha yang begitu diharapkan ada nan jauh di sana…yah seperti biasa, kamera sebagai pelipur lara….

Jam 14.45 sampai di perkemahan, untuk mengolah data hingga pengumpulan terakhir jam 16.00,..jenis yang ditemukan adalah jenis yang biasa di habitat hutan dataran tinggi, seperti sikatan, cabe, takur,..ada sekitar 30 jenis teramati dari > 100 spesies yang ada di kawasan ini…relatif kecil memang, tapi untuk proses pembelajaran bagi Pecuk ini adalah pencapaian yang patut diapresiasi.

Jam 5 sore kembali ke Bandung dan menginap di Gelanggang Generasi Muda jl.P.Sudirman, sebelahnya Bandung Indah Plaza,..dengan basah kuyup karena hujan yang masuk truk yang bocor membuat Bandung semakin terasa dingin….
,..
Minggu, 9 Nopember 2008, kembali ke Gedung Sate, untuk penutupan dan pengumuman pemenang,..dalam event kali ini sebagai Juara I Beruk Putih dari Jogja, Juara II KPB Nycticorax UNJ, juaran III, KPB Pelatuk Unnes Semarang. Sedangkan Pecuk sendiri diberi gelar sebagai peserta “tergigih”

5 thoughts on “Bird of Parahyangan 2008

  1. ooo……i see…i see…
    knapa kemarin ga bisa datang ke nikahnya ria, ternyata…udah ditunggu burung di Bandung yah? koq ga bilang sih, tau gtu kan aku ikutan juga…(^_*)

    hehehehe…

  2. lha…serius nih…..koq ga percaya sama aku?
    kita kan udah bersama selama 4 tahun (hehe…peace….)
    suer! aku kangen banget sama riuhnya wild nature (apaan yah?).
    serius!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s