Bird Strike


Konflik antara manusia dengan satwa liar begitu sering terjadi, salah satunya adalah konflik dengan burung. Dari sisi ekologi, burung mempunyai peranan yang sangat penting, mulai dari penyebar bijih hingga penjaga populusi, sebagai predator. Akan tetapi jika dihadapkan dengan kepentingan manusia dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat ternyata burung menjadi salah satu pengganggu kepentingan manusia. Teknologi transportasi udara menjadi pihak yang merasa terganggu dengan keberadaan burung sebagai saingan teknologinya, tepatnya sebagai disturber.

Bandar udara dan kawasan sekitarnya yang tersusun atas lapangan rumput, sumber air, tempat penampungan sampah, atau lahan pertanian merupakan kondisi lingkungan yang menarik bagi burung (Cain, 2004). Kehadiran burung di Bandar Udara disebabkan oleh keberadaan makanan, air dan tempat berlindung yang aman untuk istirahat, bersarang dan bertengger (Transport Canada, 2007), selain itu burung terdesak karena kerusakan habitat alami (Solman, 1971) serta didukung dengan berbagai jenis burung yang mampu beradaptasi terhadap lingkungan pemukiman (Dolbeer, 2006). Kondisi ini sangat berbahaya karena dapat meningkatkan aktivitas burung (Cain, 2004). Burung yang aktif di sekitar jalur terbang pesawat menjadi ancaman yang sangat penting dikenal dengan bird strike, ancaman tersebut sesuai dengan ukuran dan perilaku burung (Dolbeer, 2000).

Bird strike adalah tabrakan antara burung dan pesawat baik di dalam atau di luar area bandar udara, dengan kemungkinan berpengaruh pada keselamatan penerbangan pesawat (Mantijaca, 2000). Tabrakan antara hewan liar dengan pesawat pertama kali terjadi di Ohio tahun 1908, yaitu ketika Orville Wright menabrak dan meyebabkan kematian seekor burung di dekat Dayton (Thorpe, 1996 dalam Barras, 2002), Sedangkan yang menyebabkan korban manusia pertama kali terjadi pada tahun 1912 di California (Thorpe, 1996 dalam Barras, 2002), dan lebih dari 400 orang telah menjadi korban gangguan satwa liar di seluruh dunia (Dolber and Other, 2000 dalam Barras, 2002). Gangguan burung dapat menyebabkan kecelakaan atau kerusakan pesawat, yaitu mulai dari pecahnya kaca, kerusakan mesin bahkan sampai menyebabkan pesawat terjatuh. Dimana pada umumnya, gangguan burung terjadi di dekat Bandar udara dengan ketinggian rendah, yaitu pada saat pesawat tinggal landas atau mendarat (Cleary et al. 1999).

***Dengan kondisi seperti itu, tindakan apa yang sebaiknya diambil, agar burung dan manusia dapat terbang bersama dengan aman? Tapi bukankan burung yang telah terbang terlebih dahulu daripada manusia? Lalu sebenarnya siapa yang menjadi pengganggu?

3 thoughts on “Bird Strike

  1. “Tapi bukankan burung yang telah terbang terlebih dahulu daripada manusia?”
    Sepakat Mas! Leonardo da Vinci, yang suka mengamati burung, menyusun studi pertama yang cukup serius tentang penerbangan sekitar tahun 1480. Pada tahun 1889, Louis Pierre Mouillard mempublikasikan sebuah buku tentang aerodinamika. Otto Lilienthal menyusun tulisan tentang aerodinamika berdasarkan studi yang dia lakukan mengenai burung dan bagaimana burung terbang pada tahun 1891. Baru pada awal abad ke-20 manusia benar-benar bisa terbang, yaitu saat Wright bersaudara, pada hari Kamis, 17 Desember 1903, berhasil melakukan penerbangan pertama manusia menggunakan pesawat udara bermesin baling-baling.
    Sementara burung telah terbang sejak masa-masa jurassic, setidaknya seratus lima puluh juta tahun yang lalu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s