4188_85710221167_761301167_1783645_316781_nSetelah sekian lama berkeinginan mengikuti ekspedisi penelitian burung di lokasi yang benar-benar liar akhirnya pada bulan Desember 2008, tepatnya saat hari ulang tahun ke 23 saya mendapat kesempatan untuk bergabung dengan Tim Global Health Program Wildlife Conservation Society – Indonesian Program sebagai volunteer untuk pengambilan sampel Flu Burung(H5N1), penandaan dengan bendera warna (color flag) dan pencincinan (ringing) di Pantai Cemara Jambi.

Lokasi

Pantai Cemara, berada di pedalaman Jambi berbatasan dengan Taman Nasional Berbak. Untuk mencapai lokasi harus melalui perjalanan yang cukup panjang. Dari Kota Jambi naik mobil menuju Suakkandis selama 1-1,5 jam, selanjutnya dengan naik speed boat menyusuri Sungai Batanghari menuju Nipah Panjang, kemudian menggunakan Kapal Pompong menuju Desa Sungai Cemara selama 6-8 jam, tergantung cuaca, ombak dan angin. Desa Sungai Cemara merupakan perkampungan terdekat dengan Pantai Cemara yang dihuni oleh Suku Bugis, sedangkan Pantai Cemara merupakan pantai liar tanpa penghuni manusia dan banyak ditumbuhi cemara (Casuarina equisetifolia) sesuai dengan namanya. Di pinggir pantai di bawah pepohonan cemara inilah menjadi tempat tinggal Tim selama lebih dari 4 bulan.

Aktivitas

Tujuan dari aktivitas ini adalah melakukan pengambilan sampel flu burung (H5N1) dari burung pantai migran (Migratory shorebird), selain itu juga pada jenis burung laut (sea bird), burung air (waterbird) lain, serta jenis Passerin. Sedangkan rangkaian aktivitasnya meliputi penangkapan, morfometri, penandaan bendera warna, ringing dan sampling (swab dan blood), dan pelepasan. Selain aktivitas inti, semua tim juga terlibat dalam management kebutuhan sehari-hari seperti memasak, perawatan, penggunaan alat alat dan tempat tinggal, serta melakukan pendidikan lingkungan hidup untuk anak-anak di Desa Sungai Cemara.

Sebagai volunteer, saya diberi kesempatan seluas-luasnya untuk belajar, dan terlibat aktif dalam penangkapan, morfometri, pemasangan bendera dan cincin, dan pelepasan kembali, tentunya dibawah supervise staff WCS. Untuk pengambilan sampel dengan Swab dan pengambilan darah saya berperan sebagai asisten, karena untuk proses tersebut harus dilakukan oleh Dokter Hewan.

Penangkapan

Berbagai metode penangkapan telah dipraktekan selama trip, yang paling sering menggunakan Jala kabut (mist net) dan jaring satu kantung (Stationery net). Kedua jenis alat tersebut digunakan untuk melakukan penangkapan di pantai, sedangkan untuk penangkapan passerine menggunakan mist net. Selain itu juga melakukan penangkapan dengan senter dan jarring ikan atau tagan kosong untuk burung nocturnal seperti Cabak kota (Caprimulgus affinis) dan Berkik (Gallinago sp). Waktu penangkapan shorebird dan sea bird dimulai saat matahari mulai terbenam hingga terbit kembali, hal ini dilakukan berkaitan dengan visibility dan pergerakan burung karena aktivitas pasang surut air laut.

Processing

Burung yang tertangkap diukur panjang paruh, panjang kepala (dengan paruh), panjang sayap, panjang tarsus, panjang tubuh, diameter tarsus, diameter tibia, selanjtnya diamati bulu berbiak, peluruhan bulu/ganti bulu (molting), jenis kelamin (sexing) dan umur (ageing).Di bawah supervise staff WCS saya diberi kesempatan untuk melakukan proses ini hingga pemasangan cincin dan bendera warna orange-hitam sebagai identitas bahwa burung tersebut telah tertangkap di Sumatera. Sungguh pengalaman yang sangat berharga, karena saya berkesempatan memasang bendera pada beberapa jenis burung pantai, sea bird, dan passerine, seperti Calidris tenuirostris, Tringa totanus, Charadrius mongolus, Gallinago megala (Berkik ekor-lidi/ Swinhoe’s snipe) Limnodromus semipalmatus (Trinil-lumpur asia) serta berbagai jenis yang jarang lainnya. Dalam trip kali ini, WCS telah memasang cincin dan/atau bendera warna sekitat 1400 ekor. Pengambilan sampel AI dilakukan melaui trachea dan cloaca menggunakan Swab dan disimpan dalam VTM (virus transfer medium) untuk selanjutnya disimpan dalam tabung nitrogen cair sebelum dikirim ke Bogor untuk di analisa. Selain belajar dari staff WCS, saya juga berkesempatan menimba ilmu dari seorang ornitholog dari Rusia, Mikhael Markovets Ph.D.

Di antara 1400an ekor burung yang tertangkap, beberapa jenis burung dengan populasi relative kecil telah tertangkap, diproses dan dilepas kembali dengan keadaan baik, seperti Trinil-lumpur asia (Limnodromus semipalmatus) dan Nordmann’s Greenshank (Tringa guttifer). Selain itu juga teramati beberapa jenis burung dilindungi dan terancam punah seperti Bangau bluwok (Myctirea cinerea/Milky stork), Bangau tong-tong (Leptoptilos javanicus/Lesser adjutant), Ibis cucuk-besi (Threskiomis melanochepalus/Black-headed ibis).

Sekitar 67 spesies burung telah saya identifikasi disela-sela aktivitas rutin sampling, sedangkan untuk vegetasi, 30 spesies telah saya identifikasi di Pantai Cemara. Satwa liar yang lain adalah Macaca fascicularis,Lutung, Wild pig, Varanus salvator, kancil, Buaya muara, ular air, dan yang paling menghebohkan terdapat jejak Kucing besar (kemungkinan Panthera trigris sumatranus dewasa) di sekitar camp setelah sehari ditinggalkan untuk ke Kampung sebelum kembali ke Bogor.

Berdasarkan pengamatan jenis dan jumlah burung di Pantai Cemara, kelestarian Pantai Cemara sangat penting untuk dijaga sebagai habitat burung, terutama burung pantai migrant. Harapan itu masih terjaga dengan sudah semakin meningkatnya pemahaman dan kepedulian masyarakat Desa Cemara, terutama generasi mudanya.

***

Terima kasih untuk WCS, Kawan-kawan sukarelawan (Putri Wulansari, Mas Kelik, Herman dan Sapari), serta masyarakat Desa Cemara.

<!–[if !mso]>

Setelah sekian lama berkeinginan mengikuti ekspedisi penelitian burung di lokasi yang benar-benar liar akhirnya pada bulan Desember 2008, tepatnya saat hari ulang tahun ke 23 saya mendapat kesempatan untuk bergabung dengan Tim Global Health Program Wildlife Conservation Society – Indonesian Program sebagai volunteer untuk pengambilan sampel Flu Burung(H5N1), penandaan dengan bendera warna (color flag) dan pencincinan (ringing) di Pantai Cemara Jambi.

Lokasi

Pantai Cemara, berada di pedalaman Jambi berbatasan dengan Taman Nasional Berbak. Untuk mencapai lokasi harus melalui perjalanan yang cukup panjang. Dari Kota Jambi naik mobil menuju Suakkandis selama 1-1,5 jam, selanjutnya dengan naik speed boat menyusuri Sungai Batanghari menuju Nipah Panjang, kemudian menggunakan Kapal Pompong menuju Desa Sungai Cemara selama 6-8 jam, tergantung cuaca, ombak dan angin. Desa Sungai Cemara merupakan perkampungan terdekat dengan Pantai Cemara yang dihuni oleh Suku Bugis, sedangkan Pantai Cemara merupakan pantai liar tanpa penghuni manusia dan banyak ditumbuhi cemara (Casuarina equisetifolia) sesuai dengan namanya. Di pinggir pantai di bawah pepohonan cemara inilah menjadi tempat tinggal Tim selama lebih dari 4 bulan.

Aktivitas

Tujuan dari aktivitas ini adalah melakukan pengambilan sampel flu burung (H5N1) dari burung pantai migran (Migratory shorebird), selain itu juga pada jenis burung laut (sea bird), burung air (waterbird) lain, serta jenis Passerin. Sedangkan rangkaian aktivitasnya meliputi penangkapan, morfometri, penandaan bendera warna, ringing dan sampling (swab dan blood), dan pelepasan. Selain aktivitas inti, semua tim juga terlibat dalam management kebutuhan sehari-hari seperti memasak, perawatan, penggunaan alat alat dan tempat tinggal, serta melakukan pendidikan lingkungan hidup untuk anak-anak di Desa Sungai Cemara.

Sebagai volunteer, saya diberi kesempatan seluas-luasnya untuk belajar, dan terlibat aktif dalam penangkapan, morfometri, pemasangan bendera dan cincin, dan pelepasan kembali, tentunya dibawah supervise staff WCS. Untuk pengambilan sampel dengan Swab dan pengambilan darah saya berperan sebagai asisten, karena untuk proses tersebut harus dilakukan oleh Dokter Hewan.

Penangkapan

Berbagai metode penangkapan telah dipraktekan selama trip, yang paling sering menggunakan Jala kabut (mist net) dan jaring satu kantung (Stationery net). Kedua jenis alat tersebut digunakan untuk melakukan penangkapan di pantai, sedangkan untuk penangkapan passerine menggunakan mist net. Selain itu juga melakukan penangkapan dengan senter dan jarring ikan atau tagan kosong untuk burung nocturnal seperti Cabak kota (Caprimulgus affinis) dan Berkik (Gallinago sp). Waktu penangkapan shorebird dan sea bird dimulai saat matahari mulai terbenam hingga terbit kembali, hal ini dilakukan berkaitan dengan visibility dan pergerakan burung karena aktivitas pasang surut air laut.

Processing

Burung yang tertangkap diukur panjang paruh, panjang kepala (dengan paruh), panjang sayap, panjang tarsus, panjang tubuh, diameter tarsus, diameter tibia, selanjtnya diamati bulu berbiak, peluruhan bulu/ganti bulu (molting), jenis kelamin (sexing) dan umur (ageing).Di bawah supervise staff WCS saya diberi kesempatan untuk melakukan proses ini hingga pemasangan cincin dan bendera warna orange-hitam sebagai identitas bahwa burung tersebut telah tertangkap di Sumatera. Sungguh pengalaman yang sangat berharga, karena saya berkesempatan memasang bendera pada beberapa jenis burung pantai, sea bird, dan passerine, seperti Calidris tenuirostris, Tringa totanus, Charadrius mongolus, Gallinago megala (Berkik ekor-lidi/ Swinhoe’s snipe) Limnodromus semipalmatus (Trinil-lumpur asia) serta berbagai jenis yang jarang lainnya. Dalam trip kali ini, WCS telah memasang cincin dan/atau bendera warna sekitat 1400 ekor. Pengambilan sampel AI dilakukan melaui trachea dan cloaca menggunakan Swab dan disimpan dalam VTM (virus transfer medium) untuk selanjutnya disimpan dalam tabung nitrogen cair sebelum dikirim ke Bogor untuk di analisa. Selain belajar dari staff WCS, saya juga berkesempatan menimba ilmu dari seorang ornitholog dari Rusia, Mikhael Markovets Ph.D.

Di antara 1400an ekor burung yang tertangkap, beberapa jenis burung dengan populasi relative kecil telah tertangkap, diproses dan dilepas kembali dengan keadaan baik, seperti Trinil-lumpur asia (Limnodromus semipalmatus) dan Nordmann’s Greenshank (Tringa guttifer). Selain itu juga teramati beberapa jenis burung dilindungi dan terancam punah seperti Bangau bluwok (Myctirea cinerea/Milky stork), Bangau tong-tong (Leptoptilos javanicus/Lesser adjutant), Ibis cucuk-besi (Threskiomis melanochepalus/Black-headed ibis).

Sekitar 67 spesies burung telah saya identifikasi disela-sela aktivitas rutin sampling, sedangkan untuk vegetasi, 30 spesies telah saya identifikasi di Pantai Cemara. Satwa liar yang lain adalah Macaca fascicularis,Lutung, Wild pig, Varanus salvator, kancil, Buaya muara, ular air, dan yang paling menghebohkan terdapat jejak Kucing besar (kemungkinan Panthera trigris sumatranus dewasa) di sekitar camp setelah sehari ditinggalkan untuk ke Kampung sebelum kembali ke Bogor.

Berdasarkan pengamatan jenis dan jumlah burung di Pantai Cemara, kelestarian Pantai Cemara sangat penting untuk dijaga sebagai habitat burung, terutama burung pantai migrant. Harapan itu masih terjaga dengan sudah semakin meningkatnya pemahaman dan kepedulian masyarakat Desa Cemara, terutama generasi mudanya.

***

Terima kasih untuk WCS, Kawan-kawan sukarelawan (Putri Wulansari, Mas Kelik, Herman dan Sapari), serta masyarakat Desa Cemara.

4 thoughts on “Laporan Singkat Dari Pantai Cemara

  1. Aslmualaikum,
    saya mahasiswi UNJA, saya saya sangat tertarik dengan kegiatan ini, bagaimana caranya untuk dapat bergabung dalam kegiatan ini, apa syaratnya. Dimohon infonya, trimakasih.

    • waalaykumsalam…
      ini ada infonya,

      Iwan Londo 23 October at 10:59 Reply
      Kawan pengembara,

      Wildlife Conservation Society – Indonesia Program membuka kesempatan bagi siapa saja yang berminat untuk mengikuti kegiatan sampling dan penandaan pada burung liar di Pantai Timur Jambi (Cemara). dibawah ini informasi tentang kegiatan.

      Kesempatan menjadi Relawan WCS GHP (Global Health Program)

      WCS (Wildlife Conservation Society) memiliki salah satu program yaitu Program Kesehatan Hewan Lapangan (Field Veterinary Program) yang telah dimulai pada tahun 1989 dan menggunakan pendekatan kolaboratif dalam pemeliharaan keseharan ekosistem. Bekerjasama dengan para pakar dari lembaga pemerintah dan non pemerintah dalam bidang satwa liar, hewan domestik dan kesehatan hewan mengadakan program pelatihan lokal, mengadakan penyidikan penyakit dan memberi masukan pada kebijakan dan acuan pencegahan untuk mengurangi penularan penyakit di antara satwa liar, manusia dan hewan domestik.

      WCS GHP (Global Health Program) telah dilakukan di Indonesia sejak tahun 2007 di lokasi Sumatera, Jawa dan Kalimantan yang bertujuan untuk melawan HPAI (Highly Pathogenic Avian Influenza), dikarenakan burung liar bisa menjadi salah satu sentinel untuk deteksi dini keberadaan virus.

      WCS GHP juga ikut dalam pemasangan bendera dan cincin untuk burung pantai dan jenis burung lokal. Hal ini ikut membantu dalam kegiatan jalur migrasi burung pantai (East Asia Australasia Flyaway) dan mengetahui jalur terbang atau migrasi burung pantai.

      Kegiatan berikutnya dengan tujuan yang sama akan melakukan kembali di Pantai Cemara, Jambi. Kegiatan ini dilakukan selama 2 bulan (Desember dan Januari). Kami mengundang kembali untuk ikut dalam kegiatan ini kembali.

      Tugas:

      * Membantu dalam pemasangan mist net dan penangkapan burung
      * Membantu mengumpulkan sample dan melakukan morfometrik pada burung
      * Membantu dalam penandaan burung (bendera warna dan cincin)
      * Melakukan survei lapangan tentang jenis atau keragaman jenis burung pantai
      * Ikut dalam kegiatan pendidikan lingkungan di lokasi kegiatan

      Kriteria:

      * Memiliki kemauan untuk belajar
      * Mau bekerjasama dalam tim
      * Memiliki pengalaman di lapangan minimal 6 bulan atau 1 tahun
      * Berkomitmen bekerja pada salah satu tahap periode pada waktu pelaksanan
      * Mau bekerja keras, mengikuti instruksi yang diberikan oleh koordinator dan berkomitmen penuh pada kegiatan ini.

      Waktu kegiatan: Kegiatan akan dilakukan pada bulan Desember-Januari (berangkat akhir November dan pulang awal Februari).

      Kondisi : Selama bulan Desember dan Januari adalah musim hujan.

      Fasilitas : Makan, transportasi selama dilapangan dan asuransi akan ditanggung.

      Nb :

      1. Jika hanya bisa mengikuti kegiatan ini hanya 1 bulan, berikan keterangan pada email Anda
      2. Jadwal bisa berubah sewaktu-waktu dan akan kami informasikan.

      Kirimkan CV Anda kepada Iwan Londo (alamat email dan kantor terlampir di bawah)
      Paling lambat CV masuk pada tanggal 22 November 2009

      Iwan Lond

      Wildlife Conservation Society – Indonesia Program

      JL.Burangrang No. 18 Bogor 16151, Jawa Barat

      +62-251-8342135, 8306029

      +62-818-338433

      +62-813-17524505

      i.febrianto@ wcsip.org

      http://www.wcsip.org

      http://www.fieldvet.org

      http://www.gains.org

  2. Agus..terimakasih untuk sharing informasinya..Untuk Arbaiyah, tahun kemarin teman dari UNJA (Asrin Hotlan) juga berkesempatan ikut kegiatan ini dan dia akan berbagi di kampus UNJA akhir Maret ini, semoga bisa ikut dan mendapat tambahan info lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s