Sahabat Kecilku: “Sujati”


Baru saja kunang-kunang berada di ranjang rumah dan aku pegang di jemari tangan. Kunang-kunang ini memancarkan cahaya hijau lembut yang mengingatkanku kepada banyak hal, warna dari phospor itu menggugah memori waktu kecil yang banyak bersinggungan dengan warna itu.

Cahaya dan kunang-kunang itu mengingatkanku pada permainan waktu kecil yang sangat imaginatif, saat itu saya bersama Sujati tetangga dan masih saudara yang rumahnya di belakang rumahku setiap malam mangumpulkan kunang-kunang, saat itu berimaginasi kalau kunang-kunang akan kami kumpulkan dalam botol dan plastik bening untuk dijadikan sumber cahaya di malam hari, saat itu kami tidak tau bagaimana memeliharanya, alhasil banyak yang mati. Selain itu, kami juga menyusun kunang-kunang pada tanah liat yang dibentuk menjadi bentuk tivi, kunang-kunang disusun pada layar tivinya, dan akan memancarkan cahaya terang yang menyerupai televisi. Hemmm….jika dibayangkan, seperti lampu kelap-kelip saat tujuh belasan yang begitu meriah, tapi yang ini sumber cahayanya dari makhluk hidup.

Sujati pulalah yang muncul saat cahaya hijau lembut itu mengingatkanku pada tasbih di musholla tempatku tarawih di bulan Romadhon. Diwaktu kecil, dikampung saya belum tersentuh PLN, dan sumber energinya berasal dari Diesel atau pun lampu minyak,jadi tidak menyala sepanjang hari maupun sepanjang malam. Jadi kemana-mana selalu bawa senter. Saat saya bersama anak-anak kecil yang lainnya ke musholla yang menjadi fenomena menarik adalah tasbih yang bisa menyala, itu menjadi mainan yang sangat menarik dan membuatku bertanya-tanya kok bisa? Dan seperti kunang-kunang pula. Lalu kenapa mengingatkanku pada Sujati? Dia yang selalu menemaniku yang penakut ini pergi ke mushola dan bermain.

Cahaya hijau lembut itu mengingatkanku juga kalau dulu saya punya senter kecil kebanggaanku karena tidak banyak anak yang punya. Senter itu menggunakan baterai ukuran AA dua biji, penampakan luar senter berwarna silver, dan kalau dinyalakan mengeluarkan warna hijau lembut. Senter ini yang selalu saya bawa saat pergi ke musholla saat tarawih dan sholat subuh. Senter kecil, elegan, dan kabanggaanku di waktu kecil!

Sahabat kecil, Sujati, begitu banyak peran dia dalam mengambangkan imaginasiku, seorang anak kreatif alamiah. Jika Andrea hirata punya Lintang, aku punya Sujati. Sujati selalu jago untuk hal yang saat itu banyak dimainkan atau dikerjakan anak-anak kampungku, dan aku Cuma seperti Ikal  yang menjadi pengikut dan pembelajar. Sujati jago ketapel burung, dia sering membawakan burung hasil bidikannya saat lagi menjaga padi dari serangan bondol, burung hasil ketapelannya ada derkuku, emprit, gentilang, cendet, yang pada kemudian hari saya kenal berturut-turut dengan nama Streptopelia sinensis, Lonchura leucogastroides, Pycnonotus aurigaster, dan Lanius schach. Sementara aku, sampai saat ini belum pernah sekalipun berhasil menangkap burung dengan ketapelku.

Sujati juga jago menangkap ikan dan belut, dengan berbagai cara seperti pancing, seser, dengan tangan sampai pakai sengatan listrik. Dia mengajariku bagaimana mencari cacing dan teknik memancing ikan, mengajariku memancing belut yang memakai teknik khusus mengeluarkan suara dengan menyentil permukaan air untuk menarik perhatian belut.

Dia juga jago elektronika, lebih tepatnya sok jago, karena radio rusaknya yang dibongkar sama dia malah jadi tambah parah, dan hanya menjadi bagian-bagian yang membuatku tau kalo isi di dalam radio itu sangat rumit, dan bagaimana radio itu bisa berbicara?

Sujati dan Henirah (adiknya) pula yang mengajariku perdagangan. Saat itu sawah di sebelah barat rumah kami harus dijaga dari serangan bondol, dan menjadi tugas kami yang masih kecil untuk menjaga. Selama menjaga itulah kami membuat permainan toko-tokoan, dan terjadi transaksi jual beli dengan mata uang yang kami buat dari tanah liat.

Di lokasi yang sama belajar transaksi perdagangan, saya belajar bahan peledak dari Sujati, saat itu lagi puasa dan selalu diramaikan dengan dentuman petasan. Di saat yang lain menggunakan obat mercon (mungkin potasium), sujati mengajariku membuat meriam dari karbit yang dentumannya juga menyesakkan dada. Permainan ini relatif aman bagi anak kecil, aku lupa umurku saat itu. Permainan yang umum, tapi Sujati yang mengajariku.

Sujati juga seorang mekanik, dia selalu memperbaiki sepedah (saat itu disebut jengki) ontelnya yang rusak, bahkan menambal ban yang jebol dengan kain (aku lupa pastinya ditambal dengan apa, yang jelas bentuknya jadi aneh). Karena keahlian mekaniknya, dia pernah pulang sekolah (dasar) dengan menenteng roda sepedah yang lepas dari rangkanya.

Sujati juga seorang Insinyur teknik sipil, karena saat itu didesaku jalanannya belum di aspal, dan hanya jalanan kabupaten yang diaspal, kami terpicu imajinasi tentang aspal itu. Plastik, semua jenis plastik yang dibakar akan meleleh dan kemudian akan mengeras saat dingin dengan warna yang kebanyakan berwarna hitam. Pelataran rumah Sujati berupa plester semen yang berlubang-lubang, kemudian dia berpikir kalo lubang itu akan ditambal dengan aspal buatannya dia. Aspal dari pembakaran plastik. Sukses!!! Lubang-lubangnya akhirnya ketutup dengan aspal buatannya dia, tapi dia lupa untuk memasang tanda bahaya “Awas Ada Proyek!!!”, alhasil ada anak kecil yang bermain di situ dan menginjak aspal (baca:plastik) panas dan menempel di telapak kaki (sepertinya kaki kanan) kemudian menangis dengan kerasnya sambil berjingkrak-jingkrak kepanasan!!! Kamu tau siapa anak itu? Aku!

Sujati juga seorang arsitek, dia membuatkanku rumah pohon, rumah dari dedaunan pisang, dan ayunan dari akar liar. Sebelum aku mengenal apa itu tenda darurat, dia sudah mengajariku membuat tempat tinggal dari dedaunan pisang. Saat aku berimaginasi punya rumah pohon, dia buatkanku rumah pohon di atas pohon mangga di sawahnya sambil mengawasi serangan bondol. Disaat aku bosan di sawah, dia buatkanku ayunan di atas pohon keluwih dari akar liar yang sangat memicu adrenalin untuk anak penakut sepertiku.

Sujati juga seorang ahli perkapalan, dia mengajariku bagaimana membuat kendaraan air, saat itu di sawah sedang membuat kedung (genangan air) dia membuatkanku perahu dari batang pisang, aku yang penakut dituntun sama dia agar berani masuk air dan mengendarai kapal kreasinya dia, saat itu tersusun atas 3 potong batang pisang.

Sujati juga seorang koki, dia yang menyiapkan makanan dari burung tangkapannya, katak hasil nyuluh (mencari katak pada malam hari), menyiapkan rebusan ubi, uwi, singkong saat main rumah-rumahan.

Sujati juga seorang ahli teknologi pangan, saat itu saya dengar kalo tanaman “garut” bisa dijadikan tepung untuk makanan, dan sujati membuktikannya kepadaku dengan tepung hasil kerjanya.

Sujati yang mengajariku bagaimana membajak sawah, saat itu dia membuat krakal (sejenis alat bajak dari kayu) dalam ukuran kecil, untuk mempraktekkannya, yang semestinya ditarik oleh sapi, Sujati yang menggantikan sapi dan aku sebagai pembajaknya (aku kurang ajar banget yo?)

Sujati yang mengajariku membantu orang tua, di rumahku memasak dengan kayu bakar, saat itu saya diajak mencari kayu bakar ke hutan dekat sawah, dan saya juga diminta ikut pikul kayu buat dibawa pulang, alhasil malah jadi lucu, bawa kayunya Cuma sedikit, tapi jalannya sudah sempoyongan!!!hehehe

Sujati yang mengajariku menyayangi binatang, saat itu dia punya anjing peliharaan, namanya bagong, dia selalu membersihkan kutu diantara bulu-bulu anjingnya, memandikan dan kasih makan. Aku yang sering mengajak bermain lebih tepatnya diajak main oleh Bagong, berkejar-kejaran, balapan lari. Makanya lariku bisa jadi kenceng. Sujati juga pernah dapat anakan luwak yang akhirnya dipelihara, tapi saya lupa diapakan luwak itu dikemudian hari.

Sujati yang mengajariku membuat jebakan ayam hutan, saat itu jebakannya dengan menggunakan simpul dan batang bambu lentur dengan umpannya jagung. Sepertinya pernah dapat juga.

Sujati memberikan contoh keberanian yang nyata (baca:nekat), saat itu di pohon besar di salah satu kuburan ada sarang burung Cangak ulo yang kemungkinan Bangau sandang-lawe dan Alap-alap. Pohon itu besar dan tinggi dengan terlilit akar Ficus sp. burung-burung itu dia ambil tanpa menggunakan  alat pengaman, padahal ketinggiannya di atas 20 meter.

Sebenarnya masih banyak hal lagi yang saat itu dikerjakan orang besar kemudian saya buat tiruannya dengan si skala kan saat bersama Sujati.

Sujati, banyak hal telah kau ajarkan, sepertinya aku belum pernah mengucap terima kasih. Bahkan saat pernikahanmu aku tidak berada dirumah untuk merasakan kebahagiaan yang engkau rasakan. Sekarang kau di Kalimantan, entah bagaimana kabarmu “lintangku”!? Aku berdoa, semoga kau baik-baik saja. Nasib memang berkata lain, aku sangat beruntung mendapat kesempatan menempuh pendidikan yang sangat tinggi jika patokannya kampung kita, dan bisa bergerak, berkreasi, berimajinasi berusaha mewujudkan dan meneruskan kebiasaan waktu kecil yang engkau ajarkan wahai Alumni SDN Mulyorejo! Sementara engkau dengan segaka keunggulan yang kau miliki, harus berkutat dengan dunia yang sangat berbeda denganku.

Aku rindu, rindu saat aku selalu dilayani untuk belajar, rindu untuk dikuatkan, rindu untuk bebas berkreasi dengan gembira!!!

Ya Allah, berikanlah kesempatan bagi hamba untuk membalas semua kebaikannya yang diberikan kepadaku. Untuk saat ini hanya doa yang bisa hamba panjatkan!

Semoga, kau selalu seperti dahulu, dan keadaan akan selalu baik bagimu dimanapun engkau berada!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s