Setiap orang itu pintar, perbedaannya ada pada bidang kepintaran…


Pagi kemarin saya pergi ke bengkel kampung di dekat rumah. Saat di bengkel bertemu dan bercengkerama dengan tetangga yang tanya soal kerjaan, sampe motor yang terlalu tingi dibandingkan tinggi badanku,hmmm. Salah seorang menyahut kalo aku kok ga besar-besar, tetap aja kecil dari dulu, tapi kok otaknya pinter???kata ibu itu.

Pandangan yang wajar, karena di kampungku tidak banyak orang yang ditakdirkan untuk menempuh pendidikan sampai Perguruan Tinggi (PTN favorit pula), dan setelah lulus langsung dapat berkiprah di dunia kerja. Meskipun cerita berawal dari celoteh “ibu” tadi, sebenarnya memang pandangan masyarakat sekitarku, termasuk keluargaku sendiri menganggap apa yang kuraih adalah spesial, dan menganggap aku sebagai orang pintar.

Berbeda dengan pandanganku, setelah memasuki dunia pendidikan yang Alhamdulillah membuka cara berpikir untuk lebih terbuka, ternyata setiap orang mempunyai kepintaran masing-masing yang mengantarkan peran setiap orang di dunia ini. Motor saya rusak tidak bisa memperbaiki sendiri, dan perlu orang bengkel yang pintar memperbaiki mesin tanpa pergi ke sekolah seperti aku. Dalam membangun gubug di sawah, masih memerlukan orang tukang kayu. Dalam kehidupan ini begitu kompleks urusannya, dan setiap orang akan membutuhkan kepintaran orang lain yang spesifik untuk suatu urusan tertentu. Dalam menentukan hari pernikahan adik sepersusuanku pun masih memerlukan orang pinter untuk menghitung hari pernikahan.

Lalu kenapa ada pandangan pintar dan bodoh?

Tingkat pendidikan mempengaruhi kemauan untuk berpengetahuan dan pembangunan kepercayaan diri, dan akan membentuk persepsi diri, yang paling berpengaruh adalah lingkungan. Pada dasarnya setiap orang akan merasa percaya diri saat mendapat apresiasi oleh lingkungannya, meskipun sebagian kecil bagi orang-orang spesial mampu membangun kepercayaan dirinya sendiri. Seorang yang berpendidikan (formal) tinggi pada umumnya akan dianggap oleh masyarakat sebagai kalangan intelek yang mempunyai derajat lebih tinggi, dan akan berlaku sebaliknya. Situasi ini membawa dampak psikologis, yang dipuji semakin PD, yang dianggap rendah akan semakin terpuruk dan memposisikan dirinya sebagai orang bodoh.

Mimpiku adalah sistem pendidikan yang tanpa mengejar ijazah, tapi mengejar Ilmu. Dimana dalam masyarakat Indonesia seseorang dinilai bukan karena intelektualitas formal, tapi intelektualitas peran, kontribusi, karya dan prestasi. Seperti pemain sepak bola, dihargai bukan karena asal Sekolah Sepak Bola nya, tapi karena kiprah dan prestasinya di lapangan hijau. Jadi setiap orang akan merasa pintar dan percaya diri atas setiap kemampuan yang dimiliki tanpa menyoal ijazah dimiliki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s